Hubungan Buddhisme Dengan Ramalan

9 12 2007

Ramalan, saat ini sedang populer di kalangan umat manusia, terutama Feng Shui, Palmistry, dan Astrologi (Shio dan Zodiak). Banyak yang menduga ini adalah cara-cara iblis merasuki pikiran manusia, namun ada juga yang mempercayainya. Sebenarnya, bagaimana kita menilai ramalan? Dibawah ini akan saya tuliskan sebuah cerita yang berasal dari Sariputta Samyutta, Khandavara Vagga, Sutta Pitaka, Tipitaka.

# Pada suatu ketika, Sariputta Thera bersemayam di Hutan Bambu Jetavana, di tempat pemeliharaan tupai, di dekat kota Rajagaha. Pada saat itu Beliau mengenakan jubahnya dan berniat mencari makanan (pindapatta) karena hari telah pagi.

Di perjalanan Beliau bertemu dengan pertapa wanita bernama Sucimukhi. Wanita itu mendatangi Sariputta Thera dan terjadi dialog seperti berikut
Sucimukhi : “O Pertapa, mengapa Anda makan dengan memandang ke bawah?”
Sariputta T. : “Duhai, saidari, saya tidak makan dengan memandang kebawah.”
Sucimukhi : “Kalau begitu, Pertapa, apakah Anda makan dengan memandang ke atas?”
Sariputta T. : “Saya tidak makan dengan memandag ke atas, Saudari.”
Sucimukhi : “Kalau begitu, Pertapa, apakah anda makan dengan memandang kearah (salah satu) empat penjuru utama?”
Sariputta T. : “Saudari, saya tidak makan dengan memandang ke empat penjuru utama.”
Sucimukhi : “Kalau begitu, Pertapa, apakah anda makan dengan memandang (salah satu) empat penjuru samping?”
Sariputta T. : “ Saya tidak makan dengan memandang ke arah empat penjuru samping, Saudari.”
Sucimukhi : “ Ketika saya bertanya demikian dan demikian, Anda selalu menolaknya. Lalu, bagaimanakah sesungguhnya Anda makan, Pertapa?”
Sariputta T. : “ Pertapa dan Brahmana siapa pun yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mata pencaharian salah, dengan melihat tempat secara mistis dan pengetahuan rendah semacam itu, Saudari, mereka itulah yang disebut : Pertapa dan Brahmana yang makan dengan memandang ke bawah.”
“ Pertapa dan Brahmana siapa pun yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mata pencaharian salah, dengan menjadi utusan atau pesuruh, Saudari, mereka itulah yang disebut : Pertapa dan Brahmana yang makan dengan memandang ke arah empat penjuru utama.”
“ Pertapa dan Brahmana siapa pun yang memenuhi hidupnya dengan mata pencaharian salah, dengan meramal nasib melalui guratan tangan serta tanda-tanda pada tubuh dan pengetahuan rendah semacam itu, Saudari, mereka itulah yang disebut : Pertapa dan Brahmana yang makan dengan memandang ke empat arah penjuru samping.”
“ Namun, Saudari, saya bukanlah orang yang memenuhi kebutuhan hidup melalui cara-cara seperti itu. Saya mencari makanan sesuai dengan Dhamma, dan sesuai dengan Dhamma pula saya memakannya.” #

Yang saya ulas dalam tulisan diatas adalah, janganlah kita terlalu mempercayai ramalan. Mungkin saja ramalan mempunyai kebenaran, namun ingatlah bahwa semua yang ada dalam hidup ini bergantung dengan apa yang kita lakukan (Kamma).

Janganlah terlalu termelekat pada ramalan, bahkan tolak mentah-mentah, hidup kita bukan tergantung pada ramalan, namun pada sikap dan pikiran kita.

Apakah anda percaya pada ramalan?





Kesalahan Dalam Memandang Agama Buddha

9 12 2007

Seringkali Agama Buddha disamakan dengan pemujaan berhala, karena para Buddhis ber-Puja Bhakti atau kebaktian di depan altar dengan patung-patung Buddha,Dewa ataupun Boddhisatva dan bersujud didepan patung.

Sebenarnya, Agama Buddhisme bukanlah penyembah berhala. Para Buddhis melakukan kebaktian bukan untuk menyembah-nyembah patung didepannya, namun mereka melakukan kebaktian untuk merenungi dan menghormati jasa-jasa baik para Buddha, Boddhisatva, ataupun Dewa.

Mengapa dibuat patungnya?
Guna dari patung tersebut adalah untuk mengingat jasa baik Mereka, dan agar kita bisa terus mengingat Mereka. Bila kita menghormati seseorang yang sangat berjasa, pasti kita akan menbuat patungnya, bukan? Para pahlawan-pahlawan Indonesia pun dibuat patungnya di musium, dan dihormati serta dikenang perbuatan-perbuatan baik mereka disana. Sama seperti hal diatas, umat Buddha pun membuat patung para Buddha untuk dihormati dan dikenang.

 

Namun mungkin banyak umat Buddha yang terpengaruh oleh budaya Tionghoa (karena mungkin mayoritas Buddhis di Indonesia terutama di Jakarta adalah entis Tionghoa), mereka menyembah dewa-dewi, dan menyajikan sesajen, dan sebagainya. Sebenarnya, kita harus bisa membedakan mana yang budaya mana yang Buddhisme. Banyak sekali dewa-dewi yang disembah di kelenteng (ingat, tempat ibadah Buddhis adalah Vihara) bukanlah dewa-dewi Buddhisme melainkan Taoisme. Dan kadang di beberapa Vihara di Thailand ada juga dewa-dewi Hinduisme yang disembah di sana. Mengapa hal ini bisa terjadi? Silahkan tunggu tulisan saya selanjutnya, “Buddhisme, Budaya dan Akulturasi” yang akan saya selesaikan secepatnya.

 

Hu/FU/Jimat adalah budaya Tionghoa atau ajaran Taoisme, bukanlah Buddhisme, begitu pula dengan Feng shui, palmistry dan sebagainya. Silahkan baca artikel saya berikutnya yang berjudul “Tridharma” yang juga akan segera saya selesaikan.

 

 





Hello world!

30 11 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!